RAMADHAN FIESTA
(Meneggelamkan Diri Dalam Indahnya Ramadhan)
Oleh: Asep Jamaludin, S.Pd.I
Setiap muslim sejati pasti merindukan kehadiran bulan ramadhan, bulan yang membawa ketenangan dan kedamaian bagi jiwa-jiwa yang mukmin. Kini ramadhan telah hadir, keniscayaan mukmin adalah menyambutnya dengan hati yang gembira dan membulatkan niat untuk melakukan segala amalan-amalan yang diperintahkan—dari yang wajib hingga yang sunnah—dengan hati yang ikhlas. Ramadhan berbeda dengan bulan-bulan lain, pada bulan ini seluruh muslim yang mengaku mukmin diwajibkan untuk berpuasan (shaum) selama satu bulan penuh. Pesan ini tersurat dalam firmannya di al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, yang artinya:”hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Fathi Yakan mengatakan bahwa bulan ramadhan itu memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lainnya, salah satunya adalah keistimewaan dari segala hal yang dapat mengikat erat manusia dengan bumi dan dapat naik ke derajat yang lebih tinggi. Lebih lanjut ia mengatakan, ibadah puasa secara fisik dapat menjinakan syahwat perut dan kemaluan seorang muslim, termasuk anggota badan yang lainnya seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan hingga terwujudnya penghambaan makhluk kepada Allah melalui seluruh aspek ciptaan-Nya dan rincian perbuatannya. (hal 13)
Ramadhan telah diidentikan dengan berbagai julukan yang kesemuanya telah terbukti secara teoritik dan empirik. Ramadhan dikatakan sebagai bulan tarawih, bulan puasa, bulan yang indah, bulan penuh barokah, bulan berzakat, bulan rahmah, bulan kaum ibu, bulan keluarga, bulan maghfiroh (ampunan), dll. Setiap julukan memiliki makna yang khas bagi setiap mukmin yang memaknainya—perlu dipahami bersama bahwa mukmin adalah orang yang beriman dan orang yang beriman tidak identik dengan seragam takwa. Silahkan memaknai sendiri, bagaimana ramadhan yang berkah, ramadhan yang maghfiroh, ramadhan yang rahmah dan ramadhan bagi keluarga dan kaum ibu.
Begitu banyak makna yang dimanifestasikan dalam falsafah spiritual ramadhan, sehingga tanpa disadari bahwa dibulan ramadhan seluruh mukmin diperbaiki mentalnya terutama kesabarannya, dan pada akhirnya berimplikasi pada keseluruhan aktifitas dalam hubungannya manusia dengan manusia.
Bagian-bagian atau detail dari perbaikan mental spiritual tersebut telah dituangkan dalam buku falsafah spiritual ramadhan yang di tulis oleh Drs. Syafi’i Mansyur, M.A. Dalam bukunya beliau mengatakan bahwa bulan ramadhan selain bulan yang pnuh barokah, ia pun merupakan bulan yang menyehatkan manusia secara social. Maksudnya, setiap muslim pada bulan ramadhan menjalankan puasa, sedangkan puasa jika dijalankan dengan baik dan benar sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya maka akan berpengaruh besar terhadap kesehatan jasmani dan ruhani seseorang (hal.101). Dengan demikian, jika seluruh orang berpuasa sebagaimana yang dimaksud maka seluruh muslim akan sehat semuanya baik secara jasmani dan rohani.
Buku ini sangat menarik untuk dipelajari dan dikaji, begitu banyak dimensi ramadhan yang belum tersentuh, sehingga jika diri kita kurang agresif menanggapi hal-hal baik yang tersirat dalam bulan ramadhan, kita perlu menanyakan kembali tentang sudahkah kita mendapatkan makna ramadhan dari tahun ke tahun?? Jangan-jangan nilai puasa yang kita dapatkan hanyalah haus dan lapar. Na’udzubillah…
Wallahu a’lam bi showab.
Judul buku: Falsafah Spiritual Ramadhan
Pengarang: Drs. Syafi’in Mansyur, M.A.
Penerbit: PT. RajaGrafindo Persada –
Divisi Srigunting
Tahun terbit : 2007
Tebal halaman : 168 hal
Ukuran : 13,5 x 18,5 cm
Memaknai Takwa dalam Perspektif Keseharian
SECARA sederhana, takwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Atau dari sudut lain, takwa adalah akumulasi dari nilai-nilai Islam yang membentuk kepribadian orang yang beriman. Jika demikian, lalu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan pilar-pilar takwa itu sendiri?
Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Tetapi paling tidak lewat pertanyaan itu ada sebuah keinginan yang dalam untuk menyelusuri lebih jauh buku Pilar-pilar Takwa ini.
Dr. A Ilyas Ismail, MA penulis buku ini mencoba menjelaskannya pada bab pendahuluan. Ia menuliskan, takwa sebagai akumulasi dari nilai-nilai kebaikan berakar pada empat pilar yaitu, kesadaran ketuhanan (religius consciousness), semangat ibadah dan ketaatan yang tingi kepada Allah swt, semangat kemanusiaan dan kesalehan sosial, serta kualitas moral dn keluhuran budi pekerti.
Buku ini mencoba ‘membuka’ hal-hal yang berhubungan dengan keempat pilar tersebut dengan berbagai pembahasan yang menarik.
Sebenarnya isi tulisan dalam buku ini, bukanlah berbicara secara utuh mengenai pilar-pilar yang ada tersebut, buku ini sendiri merupakan hasil kumpulan tulisan dari pengarang buku ini dari berbagai media.
Jika pada pendahuluan, Ilyas mencoba membagi pilar takwa tersebut pada empat bagian, namun bukan berarti buku ini hanya berbicara mengenai empat pilar tersebut, tetapi lebih dikembangkan dalam pilar yaitu pilar akidah, ibadah, akhlak, intelektualitas Islam, spritual, politik dan kepemimpinan, dakwah dan ekonomi.
Karena ia merupakan kumpulan tulisan maka pembahasannya mungkin tidak sepadat dengan apa yang kita harapkan. Boleh jadi ada beberapa tulisan yang belum menyentuh pada titik persoalan. Hal ini patut dimaklumi karena memang tulisan ini tidak terfokus pada satu masalah saja. Banyak masalah yang ditulis dalam buku ini. Sehingga memberikan pemahaman kepada penulis mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kondisi kita saat ini.
Tidak seperti kumpulan tulisan-tulisan yang ada. Tulisan di dalam buku ini dipenuhi dengan catatan kaki. Artinya memang kumpulan tulisan ini tidak ditulis asal jadi tetapi memerlukan pemikiran dan referensi yang cukup mendalam.
Lewat tulisan ini kita juga banyak belajar tentang hal-hal yang awalnya kita anggap biasa tetapi sesungguhnya memiliki keluarbiasaan.
Salah satunya antara lain mengenai keutamaan sujud. Pernahkah kita bertanya kenapa di dalam salat kita harus bersujud? Lewat tulisan ini Ilyas mencoba membagi pengetahuannya dengan merujuk ayat al-Qur’an dan hadist Rasulullah, ia mencoba menjelaskan akan keutamaan sujud tersebut. Sungguh menarik dan tanpa sadar kita telah mendapat sebuah asupan gizi yang sangat tinggi dari tulisan-tulisan yang ada tersebut.
Judul : Pilar Pilar Takwa
Penulis : Dr. A. Ilyas Ismail, M. A
Penerbit : Rajawali Pers
Tahun Terbit : 2009
Tebal : xxvi + 350 halaman
Oleh karena itu, saya merekomendasikan buku ini kepada pembaca untuk dimiliki.
Peresensi: Ali Murthado, Ketua Forum Baca-Tulis
ntah apakah tingginya biaya pendidikan yang menyebabkan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa kita masih pantas untuk diwacanakan atau tidak?. Kenyataan yang sebenarnya telah mengatakan bahwa hingga hari ini masih banyak warga Negara yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi. Sehingga rendahnya tingkat SDM yang terjadi menjadi konsekuensi logis dari rendahnya kualitas pendidikan individu sebagai warga Negara. Ironisnya, usaha pemerintah untuk membebaskan biaya pendidikan hanya berlaku Sembilan tahun, sehingga kalau di ibaratkan masakan, peserta didik tersebut masih setengah matang. Telor setengah matang mungkin tinggi gizinya, tetapi jika peserta didik setengah matang pengetahuannya, apa kata dunia?
Gambaran dari fenomena tersebut pada akhirnya meniscayakan kepada seluruh lapisan masyarakat—khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah—untuk berfikir dan bekerja lebih keras lagi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat, meskipun terkadang keringat dan tenaga yang keluar tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Sabda alam telah berkumandang bahwa live must go on meski apapun yang terjadi. Dari pernyataan tersebut maka lahirlah berbagai entrepreneur - entrepreneur amatir dari berbagai kelompok lingkungan mikro, tentunya dengan jenis-jenis usaha yang tidak membutuhkan modal besar namun dapat memenuhi (lagi-lagi) kelangsungan hidup. Salah satu bentuknya adalah dengan mengumpulkan dan mendaur-ulang benda-benda yang sudah tidak terpakai.
Sampah-sampah an-organik adalah salah satu benda yang sudah tidak digunakan lagi namun masih dapat didaur-ulang dan kemudian dimanfaatkan lagi. Dengan demikian, pe-rekrut-an sampah-sampah an-organik menjadi alternative terakhir bagi masyarakat, karena tidak memerlukan modal yang besar. Selain itu, pekerjaan ini pun tidak membutuhkan SDM yang tinggi, cukup dengan mental yang besar maka pendapatan pun bisa dipastikan akan lumayan.
Benda-benda yang masih dapat di daur ulang tersebut seperti; kardus-kardus bekas, plastik-plastik bekas botol atau gelas air mineral, kaleng bekas susu atau minuman bersoda, potongan-potongan besi, tembaga, kuningan dan lain sebagainya. Benda-benda tersebut dikumpulkan dalam satu tempat dan ketika sudah berjumlah beberapa kilo atau ton, benda-benda tersebut kemudian dijual kepada tengkulak dengan harga-harga yang telah ditetapkan sesuai dengan bendanya.
Terdapat adagium menarik yang mengatakan bahwa “lebih baik mencari uang yang halal dari pada meminta atau mencuri”. Inilah motto kinerja yang dua tahun lalu dijadikan sebagai semboyan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna Unit RW 002 dibilangan Timur Jakarta, tepatnya di kelurahan penggilingan, kecamatan Cakung. Kelompok pemuda yang terdiri dari berbagai disiplin tersebut menuangkan semua ide-ide untuk mengembangkan SDM lingkungannya dengan mendirikan sebuah “Lapak” sebagai tempat untuk mengkoleksi barang-barang bekas yang dikumpulkan oleh anak-anak yang notabene masih di tingkat sekolah menengah serta remaja yang berada di wilayah RW 002.
Para pengurus Karang Taruna beranggapan bahwa dengan diberdayakannya SDM-SDM yang ada di wilayah RW 002 ini, maka secara edukatif mereka (anak-anak dan remaja) akan mendapat wawasan mengenai dunia pekerjaan dan wawasan mengenai pemanfaatan waktu untuk diisi dengan hal-hal positif. Secara ekonomis mereka akan mengerti sistem jual beli (baca: perdagangan) yang berlaku di dunia syariah Islam dan dunia ekonomi konvensional.
Sistem yang diterapkan oleh pengurus karang taruna dalam “lapak” tersebut ialah sistem ekonomi syariah untuk mereka yang beragama Islam, sedangkan untuk mereka yang non-Islam dengan sistem konvensional. Pada sistem ekonomi syariah Islam maka keuntungan/uang yang diperoleh dari hasil penjualan barang dibagi dua antara pencari barang bekas dengan pengurus yang menjual barang tersebut kepada tengkulak, dengan didasari asas-asas kejujuran tentunya. Dalam konsep muamalah maka hal ini disebut dengan mudharabah (bagi hasil). Sedangkan pada sistem konvensional, jual beli barang dilakukan seperti biasa yaitu pengurus lapak tersebut langsung membeli barang yang dibawa ke lapak dan memilahnya berdasarkan jenis barangnya.
Dalam waktu enam bulan, aktifitas di lapak milik Karang Taruna unit RW 002 terlihat padat. Hal ini memberikan pemasukan kas yang lumayan banyak di Karang Taruna unit RW 002. Dari uang kas tersebut pengurus karang Taruna unit RW 002 mengelolanya dengan mendirikan sebuah taman bacaan (baca: perpustakaan) yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan pengetahuan pada masyarakat sekitar, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Melalui program pemerintah yang memilah sampah-sampah organic dan an-organik, potensi lapak menjadi semakin Nampak dan berpeluang untuk menjadi lebih besar cakupannya, tidak hanya di wilayah RW 002 tetapi di satu kelurahan. Hal ini tentu saja menambahkan saldo kas pengurus di Karang Taruna unit RW 002, sehingga dengan besarnya saldo tersebut, pengurus dapat meningkatkan pendapatan anak-anak dan remaja yang telah menjadi member atau anggota di lapak Karang Taruna RW 002 tersebut.
Sudah menjadi hukum alam bahwa ada kalanya roda di atas dan ada kalanya roda di bawah. Begitupun dengan aktifitas yang terjadi di lapak Karang Taruna unit RW 002 ketika pengurus dijangkiti dengan virus korupsi. Inilah tantangan terbesar bagi pengurus lapak, bahwa kenyataan tentang mental koruptor ialah seperti benalu yang senantiasa merusak tanaman yang sudah tertata bagus menjadi rusak. salah satu unsur utama dalam sistem manajerial adalah kejujuran. Ketika ketidakjujuran memasuki wilayah manajerial suatu bidang usaha, tak pelak rotasi saldo pun akan mengalami defisit dan fatalnya mengakibatkan collapse.
Namun demikian, selalu ada solusi untuk setiap permasalah. Begitupun dengan permasalahan atau hambatan yang terjadi pada manajemen lapak Karang Taruna unit RW 002 kelurahan Penggilingan kecamatan Cakung Jakarta Timur. Dengan melakukan expectation dan sedikit pressure terhadap para pengurus lapak tersebut, akhirnya kondisi manajerial di tubuh pengurus lapak kembali normal.
Dari usaha lapak tersebut, selain pengurus melebarkan sayap dengan mendirikan taman bacaan untuk masyarakat sekitar, pengurus pun mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris dan komputer kecil-kecilan. Dengan demikian, setidaknya dalam skala Mikro, Karang Taruna unit RW 002 ikut serta dalam membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peningkatan Sumber Daya Manusia untuk kehidupan yang lebih baik serta berpartisipasi dalam rangka menciptakan lingkungan yang hijau.
******SELESAI******

